Selasa, 21 Desember 2010

Cerita Pendampingan (Cer-Pen)


  oleh: Nurhasi Gaffar*

Awal Desember saya memulai pendampinganku dengan jiwa yang bersemangat. Hari itu Rabu, tepat tanggal 1 Desember hujan membasahi Butta Toa, namun tak menyurutkan langkah saya menyambangi desa yang selalu membuatku rindu, Desa Panakkukang, yang berarti desa yang dirindukan. Sebuah desa yang berada di dataran rendah Kecamatan Pallangga Kabupaten Gowa, mempunyai luas wilayah 4 km2 yang terbagi kedalam 4 dusun yaitu Kunjungmange, Pajalau, Bonto Biraeng, dan Parang Malengu. Jarak dari pusat pemerintahan kecamatan adalah 4 km dan jarak dari ibukota kabupaten adalah 6 km.  
Dengan ojek yang melaju di bawah rintik hujan, saya memasuki Desa Panakkukang untuk mengadakan pertemuan dengan kader. Pertemuan diadakan di Pustu Desa Panakkukang. Kader dari setiap dusun berkumpul untuk memetakan fakta kesehatan yang ada di setiap dusun dengan mengarah pada upaya menggiatkan partisipasi masyarakat desa utamanya perempuan dan warga miskin. Dari pertemuan itu disusunlah sebuah Rencana Tindak Lanjut (RTL) Kader Panakkukang yang dirancang bersama secara partisipatif hingga terpointkan enam item kegiatan yang rencana akan dilaksanakan mulai bulan Desember 2010, yakni pertemuan dengan masyarakat miskin (FGD), pelatihan kader tentang kesehatan reproduksi, pelatihan penyuluhan, pemberian makanan tambahan (PMT) bagi bayi/ balita, pendataan KK/ KTP bagi warga miskin yang belum memiliki Kartu Jamkesmas, pengadaan ATK, dan pengadaan SK Kader. RTL yang telah disusun oleh kader selanjutnya akan disampaikan pada Ketua Forum Desa Siaga Desa Panakkukang.
Setelah RTL Kader rampung, saya menyempatkan untuk mendatangi rumah salah seorang kader, namanya Syamsinah. Disana saya disuguhi makan malam. Ada nasi, sayur, ikan, dan cobek-cobek. Hmmm...enak sekali...!! Setelah itu lanjut lagi dengan ubi goreng. Kali ini acara ubi goreng dibantu oleh Dg. Mawara, salah seorang kader yang kebetulan rumahnya tidak begitu jauh dari rumah Syamsinah. Dengan cekatan, ubi goreng disajikan hangat lengkap dengan saus yang menggoda siap dimulai ronde kedua untuk acara makan-makannya. Kondisi yang sederhana namun sangat bersahabat, membuat saya merasa berada di rumah sendiri. Bada’ isya saya baru beranjak dari Desa Panakkukang, kembali ke rumah saya di Bontosunggu.
Keesokan harinya, Kamis tanggal 2 Desember, digelar pertemuan dengan warga miskin dari Dusun Pajalau dan Dusun Bontobiraeng yang diwakili oleh kaum perempuan. Siang hari bada’ dzuhur dalam derai hujan, ibu-ibu yang juga membawa serta anak-anaknya datang dengan wajah sumringah, turut menghadirkan semangat kepada saya dan rekan-rekan kader lainnya. Pertemuan dengan warga miskin dibuka dengan sapaan pembuka yang hangat dari kader yang sekaligus melatih kader untuk tampil di depan umum. Pertemuan berlangsung di salah satu rumah kader, Dg. Ngani, dengan persiapan konsumsi hasil buatan tangan kader, Supra. Kue puding ditemani teh manis ikut memaniskan suasana pertemuan yang berlangsung di siang hari. Pertemuan ini juga didampingi oleh seorang tenaga kesehatan, Rosmiati yang juga turut memberi penjelasan tentang pelayanan kesehatan dasar dan kesehatan reproduksi pada sarana kesehatan (pustu dan poskesdes) yang ada di Desa Panakkukang.
Dengan menghadirkan warga miskin dari dua dusun yang berdekatan, yakni Dusun Pajalau dan Bontobiraeng, tergambar fakta kesehatan yang dirasakan oleh masyarakat dimana masih banyak warga dari keluarga miskin yang belum memiliki jamban sendiri, mereka selama ini hanya numpang di jamban tetangga terdekat. Selain itu, terdapat dalam satu keluarga miskin yang mengalami penyakit gatal-gatal meskipun telah menjalani pengobatan baik di poskesdes terdekat, di pustu, sampai di Puskesmas Pallangga. Terkait kesehatan reproduksi dan KB, masih banyak keluarga miskin yang memiliki jumlah anak lebih dari lima. Ini mengindikasikan pemahaman masyarakat miskin tentang KB maupun kesehatan reproduksi masih rendah, yang tentu saja dengan kondisi keterbatasan dan juga jumlah anak yang  banyak turut menyinggung kesehatan ibu dan anak. Hal inilah yang coba dipotret oleh YBC melalui kerjasama dengan ACCESS Phase II, bagaimana meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan dasar dan pemahaman kesehatan reproduksi yang menyentuh warga miskin dan kaum perempuan.
Melalui pertemuan dengan warga miskin tersebut, digalang komitmen bersama untuk tanggap terhadap pencegahan penyakit, baik di Dusun Pajalau maupun di Dusun Bontobiraeng. Artinya sebelum ada masyarakat yang sakit, masyarakat secara partisipatif bekerja sama melakukan pencegahan agar dapat diminimalisir dampak meluas yang mungkin akan timbul di masyarakat.
Masyarakat sepakat untuk berpatisipasi dalam pengolahan sampah untuk menciptakan lingkungan yang sehat dalam rangka membiasakan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) yang tentu saja partisipasi masyarakat ini digerakkan oleh kader, dengan menunjuk role model dari salah seorang kader di masing-masing dusun. Disamping itu, dari pertemuan serupa akan diawali dengan penyuluhan kesehatan reproduksi oleh kader dan tenaga kesehatan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat miskin utamanya kaum perempuan tentang kesehatan reproduksi. Dengan demikian, kader sebagai mitra langsung YBC memegang peran penting dalam peningkatan kualitas kesehatan dasar dan pemahaman kesehatan reproduksi di Desa Panakkukang. (*)

0 komentar:

Posting Komentar

 

Followers